Rabu, 08 Januari 2014
Ditegur kakak perempuan.
Salatiga kota yang berada antara Semarang dengan Solo merupakan tempat kedua setelah aku dilahirkan.
Aku tidak punya saudara laki laki, semuanya saudara perempuan sehingga banyak teman teman kakak yang datang ke rumah kebanyakan wanita dan hanya satu yang masih teringat bernama Tari.
Beliau sering mengajak jalan jalan atau menggendong atau bersepeda di mana ada bangku yang dikaitkan di kemudi yang mungkin sekarang sudah jarang terlihat, sering diajak ke rumah nya, makan di suap sama kakak Tari .
Suatu saat kakak Tari mau pulang saya merengek ingin ikut dengan memanggil nama beliau " Mbak Tai .....mbak Tai ", kakakku menegur " jangan bilang begitu tidak boleh ya". Nah sejak itu saudaraku gencar mengajar kata " R" menggunakan bahasa jawa yaitu Bener .....bener , tai laler enak seger
Anak anak belum bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk atau mana yang benar dan mana yang salah, dia lebih bisa menyerap dari apa yang diterima melalui indera nya, dari indera yang ada indera penglihatan yang paling kuat dalam penyerapan nya dan ini akan mendorong anak untuk mengikutinya.
Apakah ini benar ......?
Mari coba kita amati, kita renungkan dan kita rasakan serta kita tanya mengapa terjadi degradasi moral, sopan santun sudah mulai berkurang, anak berani pada orang tua, murid menentang guru, bawahan melawan atasan, persatuan dan kesatuan sudah mulai menjauh dan Ideologi bangsa hanya dijadikan hiasan bibir.
Padahal orang tua mungkin tak kurang memberi petuah, pemuka agama semakin banyak dan memberikan cara bertingkah laku sesuai dengan kitab sucinya, pendidik tak jemu jemu memberikan tutorial, atasan tak bosan bosan memberikan panduan melaksanakan tugas.
Titik tolaknya adalah semua petuah, cara, tutorial maupun panduan lebih banyak diserap melalui indera pendengar, sedang keteladanan dan fakta yang dapat dilihat indera penglihatan sangat sedikit bahkan terkadang berlawanan dengan yang didengar.
Dapat disimak acara demi acara yang di tayang kan televisi, berita mengedepankan dan sering diulang seperti anak membunuh orang tuanya, orang tua tega membunuh darah dagingnya, perkelahian antar pelajar / mahasiswa , janji - sumpah - kesepakatan - kode etik yang tidak ditepati dan masih banyak berita lainnya.
Hal ini didukung dengan berbagai drama pergaulan bebas dan perselingkuhan secara vulgar, konsumsi hal yang memabukkan dan hal yang dahulu di tabu kan dinyatakan secara terang benderang.
Acara hiburan juga ikut meramaikan dengan komedi yang berlebihan dan bila perlu sambil menarik urat leher atau kegiatan yang cenderung mempermalukan atau menyusahkan orang lain.
Ini semua sangat mudah diserap oleh indera penglihatan, dan seolah olah ada pembiaran oleh yang berwenang dan didukung yang berkepentingan.
Jumlah operator televisi baik lokal maupun nasional semakin banyak sebenarnya mempunyai potensi yang sangat kuat untuk memajukan Bangsa Indonesia, mengemas acara sesuai dengan Ideologi Negara, semoga para orang tua lebih waspada dalam mendidik anak agar kelak menjadi manusia yang berguna.
Sekian dulu dan mohon maaf.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar